
Monday, December 26, 2016

- Sebelah barat : Kabupaten Malang
Dari Prasasti Mula Manurung yang ditemukan di Kediri pada tahun 1975 dan ber-angka tahun 1177 Saka (1255 Masehi) diperoleh informasi bahwa NARARYYA KIRANA, salah satu dari anak Raja Sminingrat (Wisnu Wardhana) dari Kerajaan Singosari, dikukuhkan sebagai Adipati (raja kecil) di LAMAJANG(Lumajang). Pada tahun 1255 Masehi, tahun yang merujuk pada pengangkatan NARARYYA KIRANA sebagai Adipati di Lumajang inilah yang kemudian dijadikan sebagai sebagai dasar penetapan Hari Jadi Lumajang (HARJALU).
AIR TERJUN GOA TETES
Air Terjun Goa Tetes adalah tempat wisata di Kota Lumajang yang berupa perpaduan antara goa dan air terjun. Goa Tetes sendiri memiliki keunikan berupa stalagtit dan stalagmit yang beraneka ragam warnanya yang membuatnya terlihat eksotis. Dan lagi tebing-tebing batu yang terbentuk di Goa Tetes ini berlapis dengan belerang sehingga menghasilkan warna kuning keemasan yang sangat unik. Apalagi dipadu dengan hijaunya lumut sehingga terlihat alami dan mengesankan.
Air Terjun Goa Tetes secara administratife terletak di Desa Sidomulyo Kecamatan Pronojiwo Kabupaten Lumajang. Air Terjun Goa Tetes berada sekitar 55km arah selatan dari Kota Lumajang yang dapat ditempuh dengan mengendarai kendaraan roda dua maupun roda empat. Goa Tetes terletak di desa sido mulyo, kecamatan pronojiwo, wisata ini cukup jauh dari pusat kota lumajang, untuk mencapai wisata ini kita harus menempuh jarak kurang lebih 50km dari pusat kota lumajang, namun meski cukupjauh di sela-sela perjalanan kita akan dimanjakan oleh pemandangan alam yang menawang yang membuat perjalanan kita tidak cepat merasa lelah.
Di Air Terjun Goa Tetes terdapat puluhan air terjun mengalir dari puluhan mata air yang tersembunyi di balik bebatuan. Air disini tidak sekedar menetes tetapi memancar deras dan membentuk banyak alur air terjun,bahkan air terjun lebih dominan untuk dilihat karena Goa Tetes sendiri berukuran tidak terlalu besar. Bebatuan disini terbentuk dari endapan kapur,karena itu bebatuan disini relatif tidak licin sehingga mudah untuk dipanjat sekalipun berlumut,tetapi saya sarankan untuk tetap berhati-hati saat memanjat.
Deskripsi dan Sejarah Kota Jember
Tentang Kota JemberBerbatasan langsung dengan Kabupaten Probolinggo dan Bondowoso di utara, Kabupaten Banyuwangi di timur, Samudra Hindia di selatan dan Kabupaten Lumajang di barat, membuat Kabupaten Jember sebagi pusat regional di kawasan tapal kuda.
Dengan luas 3.293,34 Km2, penduduk yang banyak mendiami kabupaten Jember adalah suku Jawa dan suku Madura, dengan penduduk minoritas Tionghoa dan suku Osing. Suku Madura banyak berdomisili di daerah utara dan suku Jawa banyak bertempat tinggal di Selatan dan bagian pesisir pantai.
Bahasa sehari-hari yang sering digunakan adalah bahasa Jawa dan Madura dan yang memunculkan beberapa percampuran bahasa dari dua budaya tersebut. Adanya kebudayaan Jawa dan Madura di Jember melahirkan kebudayaan baru yang bernama budaya Pendalungan.
Sebagian besar penduduk Jember berprfesi sebagai petani, dimana banyak perkebunan pribadi ataupun perkebunan yang dikelola oleh PTP Nusantara Tarutama Nusantara. Jember terkenal sebagai salah satu penghasil tembakau utama di Indonesia dan banyak memproduksi cerutu.
Selain dimanfaatkan sebagai pertanian, banyak perkebunan juga dimanfaatkan sebagai agro wisata untuk keperluar pariwisata Jember. Selain itu, terdapat beberapa obyek wisata potensial seperti pantai yang bisa dikunjungi saat berkunjung ke Jember.
Sejarah Kota JemberAsal Usul Jember Ada banyak versi tentang asal usul kota Jember. paling masuk akal (subyektif) Pada jaman dulu. Saat pulau Jawa masih lebih banyak hutan belantara dibanding populasi yang ada. Manusia seringkali melakukan perpindahan untuk mencari tempat yang lebih baik. Ini bercerita tentang dua kelompok migrasi. Kelompok pertama berasal dari suku Jawa. Jawa timur pedalaman. Seperti Kediri, Tulungagung, Trenggalek, Blitar, Bojonegoro, Ponorogo dan sekitarnya. Kelompok migrasi kedua adalah Dari suku Madura. Kedua kelompok tersebut mencari tempat yang lebih baik dari sebelumnya. Keduanya bertemu pada satu titik. Kelompok pertama dari suku Jawa berkata,”Nang kene ae, lemahe sik jembar”. Artinya, disini saja tanahnya masih luas. Kelompok kedua dari suku Madura juga berujar, “Iyeh, neng dinnak beih, tananah gik jembher”. Artinya, Iya disini saja, tanahnya masih luas. Begitulah awal terjadinya akulturasi. Percampuran kebudayaan. Seiring dengan berjalannya waktu, kata kata jembar dan jembher berevolusi menjadi seperti yang kita tahu sekarang, JEMBER. Itulah Jember bila dilihat dari legenda yang ada.
Bahwa kota ini lahir bukan disebabkan oleh reruntuhan kerajaan, namun memang sengaja dibangun.
Jember dalam lacakan sejarah Sejarah hanya berhasil melacak daerah ini sampai dengan 1859. Sebelum itu, hanya berupa praduga. Bisa jadi ini karena Jember bukanlah daerah reruntuhan kerajaan. Adapun benda benda kuno yang ditemukan di daerah ini disinyalir merupakan peninggalan kerajaan Majapahit atau Blambangan (Atau kerajaan lain yang sempat melintas di sini.
Bagaimana Jember sebelum 1859Jember hanya merupakan sebuah hutan yang luas dengan pohon pohon yang besar. Tanahnya berawa hingga menyuburkan segala jenis penyakit seperti wabah kolera dan disentri. Bila ingin tinggal di daerah ini, anda harus bisa mengatasi ganasnya alam. Itu gambaran singkatnya tempo doloe
Jember pada 1859 Dimulai dari sebuah perkebunan di Jember. Namanya LMOD. Atau lebih lengkapnya, N.V. Landbauw Maatshcappij Oud Djember. Berdiri di Jember tahun 1859. Pertengahan abad 19 Masehi. Siapa pendirinya? Pendirinya adalah pengusaha asal Belanda. Ada 3 leader. George Birnie, Matthiasen dan Van Gennep. Adanya LMOD ini melahirkan beberapa hal.
Pertama, mengundang perusahaan swasta lain untuk menanamkan modalnya ke daerah Jember. Berikutnya, kebutuhan akan tenaga kerja. Berhubung pribumi Jember sedikit, maka dihadirkan tenaga kerja dari luar wilayah yaitu tenaga kerja dari Madura. Dengan alasan mempunyai karakter pekerja keras dan ulet. Namun demikian, pihak colonial kesulitan untuk masalah pengaturan. Maka dari itu lahir kebijakan berikutnya. Mendatangkan tenaga kerja dari wilayah pedalaman Jawa timur. Ini untuk memudahkan control dan pengaturan. Menurut pihak koloni, masyarakat Jawa tidak banyak melahirkan pertentangan. Mempunyai kecenderungan watak penurut. Kedua kenapa suku Jawa dan Madura tertarik ke Jember. Karena lancarnya Jalur transportasi. Pada akhirnya, daerah ini semakin berkembang. Untuk mengangkut hasil bumi dan sebagainya, pihak kolonial butuh alat transportasi sebagai solusinya. Lalu dibukalah jalur kereta api dan selesai pada awal abad 20. Dibukanya jalur kereta api tahun 1912 dari Surabaya-Probolinggo-Jember dibarengi dengan membuat jalan darat (rintisan) yang menghubungkan daerah terpencil menuju Jember. Itu membuat terjadinya gelombang migrasi yang besar. Terutama dari daerah daerah di bagian barat. Jember dianggap memiliki prospek yang lebih baik.
Ditempat yang baru dibuka ini mereka menaruh harapan untuk diri dan keluarganya. Mereka ingin memperoleh penghasilan yang lebih baik. Perpindahan penduduk Madura, Jawa serta suku suku lain ke Jember juga terjadi di wilayah karesidenan Besuki. Alasannya karena Jember termasuk wilayah Afdeling Bondowoso. Bondowoso sendiri termasuk wilayah dari karesidenan Besuki. Perpindahan itu menggunakan berbagai macam cara. Seperti perdagangan, sebagai tenaga kerja buruh dan ekspedisi Militer. Kenapa mereka memilih Jember untuk dijadikan areal perkebunan? Jember mendapat perhatian dari pengusaha swasta Belanda karena beberapa hal berikut ini : 1. Masalah pengairan Tersedianya air yang sangat cukup 2. Tanahnya Subur Kesuburan tanah ini cocok untuk perkebunan 3. Masalah infrastruktur transportasi dan komunikasi Infrastruktur transportasi dan komunikasi di Jember relatif bisa berkembang dibanding dengan wilayah yang lain. Ini sudah menjadi gambaran dan pertimbangan pihak kolonial. 4. Sudah ada masyarakat lokal di Jember (sebelum 1859). Masyarakat lokal Jember ini sudah bisa menanam tembakau. Meskipun dengan jumlah yang sedikit dan untuk keperluan lokal saja. Masih banyak lagi sejarah kota kecil ini yang terlacak, meskipun jauh lebih banyak lagi yang belum terlacak. Pemerintah Kabupaten Jember juga tidak tinggal diam.
Jember kesulitan menentukan hari lahir yang sebenarnya. Dari kesulitan menentukan hari lahir, merembet pada kesulitan kesulitan yang lain. Contoh paling nyata, Jember selalu bingung menentukan arah budayanya. Istilah kasarnya, orang Jember selalu minder manakala harus membicarakan makanan khas, oleh oleh khas Jember dan kesenian milik Jember. Alhasil, Jember sengaja membuat tarian bernama tari lahbako. Jember juga memproduksi jajanan suwar suwir dan dikatakan sebagai 'asli Jember' padahal jelas jelas suwar suwir terbuat dari sari tape. Sedang tape sendiri sudah terlalu identik dengan Kota Bondowoso. Jember adalah sebuah daerah pandalungan. Tempat bertemunya berbagai budaya. Dua kebudayaan besar yang mendominasi adalah Jawa dan Madura. Adalah tidak mungkin mencari keaslian budaya.Semua pasti mengalami akulturasi. Solusi subyektif Berbicara mengenai solusi, sebuah contoh musik tradisional patrol. Musik ini tumbuh dan berkembang di kota kecil Jember. Sangat disayangkan, semakin hari musik rancak yang selalu dirindukan kehadirannya ini semakin terengah engah dan ditinggalkan.
Ada anggapan bahwa patrol merupakan seni asli Madura (di sana dikenal dengan nama musik thong thong). Beberapa kota lain juga memiliki seni musik tradisional yang semacam ini. Bila masyarakat Jember jeli, mereka akan menemukan sesuatu yang khas di musik patrol. Perbedaan yang sangat nampak adalah dari alat musiknya. Musik thong thong Madura menggunakan saronen sebagai alat tiupnya. Sementara musik patrol menggunakan seruling. Lagu yang dinyanyikan juga lebih berwarna. Kadang lagu Madura kadang lirik lirik Jawa. Inilah bukti adanya perkawinan budaya jawa madura. Dilihat dari namanya, patrol. Dulunya musik ini digunakan oleh masyarakat Jember untuk memanggil burung dara peliharaannya.
Selain itu juga sebagai media komunikasi. Ini untuk mengatasi jarak antar rumah yang berjauhan, juga sebagai penanda manakala sewaktu waktu terjadi sesuatu. Misalnya bencana alam, pencurian, kematian dan sebagainya. Mengenai model ketukannya, tergantung kesepakatan. Seiring perkembangan areal perkebunan, musik patrol juga digunakan untuk berpatroli keliling kebun, demi memastikan semuanya baik baik saja. Begitulah, tak ada yang asli di Jember. Kita harus mengesampingkan kata kata asli. Karena memang lebih bijak bila kata asli diganti dengan kata khas. penarikan sejarah yang dimulai pada 1859 lahir di wilayah akademisi Universitas Jember. Tapi itu bukan final. Terbukti, di sana terdapat celah. Disebutkan bahwa pihak kolonial tertarik membangun perkebunan tembakau karena sudah ada masyarakat lokal Jember yang bisa meracik tembakau. Nah, tugas kita hanyalah mencari data di tahun sebelum 1859.
Dan ini bukan sebuah kemustahilan. Kita contohkan tentang kerajaan Sriwijaya. Ada peninggalan prasasti dan diyakini, keberadaan Sriwijaya sudah ada pada abad ke tujuh. Karena peperangan di abad 12,kerajaan ini jatuh dan terlupakan.
Sumber : kompasiana.com

Pantai PAPUMA
Terletak di kawasan Taman Nasional Meru Betiri, pantai Bandealit menawarkan panorama yang mempesona dan indah untuk dikunjungi. Pantai ini terletak di sebelah selatan kota Jember, sekitar 35 Km dari pusat kota. Pantai Bandealit terletak bersebelahan dengan pantai Sukamade dan memiliki ombak yang tenang dan berpadu dengan keindahan alam yang hijau.
Pantai Bandealit merupakan salah satu tujuan wisata alam minat khusus yang ada di Taman Nasional Meru Betiri yang lokasinya berada di kabupaten Jember bagian selatan. Salah satu potensi yang diminati adalah pantainya yang alami dan bersih. Selain itu, masih banyak potensi yang menarik untuk dinikmati. Atraksi wisata yang dapat dinikmati antara lain demplot penangkaran rusa timor. Tepat di depan kandang rusa timor terdapat green house anggrek. Banyak koleksi bunga anggrek yang ada di Taman Nasional Meru Betiri dipamerkan di green house ini. Bagi pecinta bunga anggrek pasti akan menyukai tempat ini, karena banyak bunga anggrek langka yang tidak ditemui di tempat lain ada disini.
anda dapat bermain bodysurfing yang alatnya telah disediakan di sana. Permainan ini cukup aman bagi pemula, karena ombaknya yang teratur dan tidak terlalu besar. Banyak perahu nelayan yang bersandar di pantai Bandealit ini, sehingga bagi anda yang ingin merasakan ikan bakar segar dapat langsung pesan di nelayan lokal.
Sebelah timur pantai Bandealit terdapat muara sungai yang luas menyerupai danau. Muara sungai (danau) ini ditumbuhi vegetasi mangrove dengan dominasi jenis Pedada (Sonneratia caseolaris). Di tepi muara ini berdiri pondok wisata. Lokasi penginapan di Bandealit ini cukup menarik karena menghadap ke hutan mangrove dan berada di atas danau Bandealit. Walaupun dekat pantai tetapi air di penginapan ini tawar karena diambil dari mata air pegunungan.
Di muara sungai bagian timur anda dapat melakukan aktifitas pengamatan burung, berkano atau menyusuri sungai menggunakan speedboat. Kondisi muara sungai bandealit ini cukup aneh, karena hanya pada musim kemarau banyak airnya dan menggenang menjadi danau, tetapi pada musim penghujan justru airnya kering yang tidak bisa untuk bermain kano dan speedboat.
Formasi hutan mangrove di muara sungai ini cukup luas, yaitu sekitar 8 ha. Muara sungai ini berair payau karena dipengaruhi pasang surut air laut.

Pantai Bandelit
Terletak di kawasan Taman Nasional Meru Betiri, pantai Bandealit menawarkan panorama yang mempesona dan indah untuk dikunjungi. Pantai ini terletak di sebelah selatan kota Jember, sekitar 35 Km dari pusat kota. Pantai Bandealit terletak bersebelahan dengan pantai Sukamade dan memiliki ombak yang tenang dan berpadu dengan keindahan alam yang hijau.
Pantai Bandealit merupakan salah satu tujuan wisata alam minat khusus yang ada di Taman Nasional Meru Betiri yang lokasinya berada di kabupaten Jember bagian selatan. Salah satu potensi yang diminati adalah pantainya yang alami dan bersih. Selain itu, masih banyak potensi yang menarik untuk dinikmati. Atraksi wisata yang dapat dinikmati antara lain demplot penangkaran rusa timor. Tepat di depan kandang rusa timor terdapat green house anggrek. Banyak koleksi bunga anggrek yang ada di Taman Nasional Meru Betiri dipamerkan di green house ini. Bagi pecinta bunga anggrek pasti akan menyukai tempat ini, karena banyak bunga anggrek langka yang tidak ditemui di tempat lain ada disini.
anda dapat bermain bodysurfing yang alatnya telah disediakan di sana. Permainan ini cukup aman bagi pemula, karena ombaknya yang teratur dan tidak terlalu besar. Banyak perahu nelayan yang bersandar di pantai Bandealit ini, sehingga bagi anda yang ingin merasakan ikan bakar segar dapat langsung pesan di nelayan lokal.
Sebelah timur pantai Bandealit terdapat muara sungai yang luas menyerupai danau. Muara sungai (danau) ini ditumbuhi vegetasi mangrove dengan dominasi jenis Pedada (Sonneratia caseolaris). Di tepi muara ini berdiri pondok wisata. Lokasi penginapan di Bandealit ini cukup menarik karena menghadap ke hutan mangrove dan berada di atas danau Bandealit. Walaupun dekat pantai tetapi air di penginapan ini tawar karena diambil dari mata air pegunungan.
Di muara sungai bagian timur anda dapat melakukan aktifitas pengamatan burung, berkano atau menyusuri sungai menggunakan speedboat. Kondisi muara sungai bandealit ini cukup aneh, karena hanya pada musim kemarau banyak airnya dan menggenang menjadi danau, tetapi pada musim penghujan justru airnya kering yang tidak bisa untuk bermain kano dan speedboat.
Formasi hutan mangrove di muara sungai ini cukup luas, yaitu sekitar 8 ha. Muara sungai ini berair payau karena dipengaruhi pasang surut air laut.

Deskripsi dan Sejarah Kota Bondowoso
Tentang Kota BondowosoSebuah kota kecil yang sarat akan sejarah ini mungkin hampir terlupakan di Jawa Timur. Kota itu adalah Bondowoso, di sebelah timur Pulau Jawa yang diapit oleh Kota Jember dan Situbondo. Bondowoso dikenal juga dengan wilayah tapal kuda, yang juga menjadi nama kawasan di Provinsi Jawa Timur,dinamakan Tapal Kuda karena bentuk kawasan tersebut di dalam peta mirip dengan bentuk tapal kuda.
Kawasan Tapal Kuda tersebut meliputi Lumajang, Probolinggo, Bondowoso, Jember, Situbondo, Pasuruan (bagian timur), dan Banyuwangi. Tak hanya dikenal dengan kawasan Tapal Kuda, Bondowoso juga dikenal dengan kisah 'Gerbong Maut' yang terjadi pada saat Belanda masih berada di Indonesia, sekitar tahun 1947 silam tepatnya 23 November. Kala itu, meski Indonesia sudah merdeka, Belanda tetap belum hengkang dari Nusantara. Sebelum kejadian, Belanda melakukan penangkapan besar-besaran terhadap Tentara Republik Indonesia (TRI), laskar, gerakan bawah tanah, dan orang-orang tanpa menghiraukan mereka berperan atau tidak dalam kegiatan perjuangan.
Hal itu mengakibatkan Penjara Bondowoso penuh dan tak mampu lagi menampung para tahanan. Belanda pun memindahkan sekitar 100 orang tahanan yang dianggapnya memiliki pelanggaran berat, dari penjara Bondowoso ke penjara Surabaya. Pemindahan tahanan dilakukan dengan menggunakan kereta api. Setiap 1 gerbong diisi sekitar 30 orang. Gerbong pertama GR5769 dan gerbong kedua GR4416 masih memiliki lubang ventilasi udara meskipun sangat kecil, namun gerbong ketiga GR10152 tidak sama sekali -- meski baru dibuat.
Belanda sangat menutup rapat gerbong-gerbong kereta. Hal itu dikarenakan sedang marak gerilyawan RI, apabila ada orang-orang yang ketahuan membawa para pejuang RI, pasti akan langsung dihabisi.
Selama perjalanan ke Bondowoso dari Surabaya yang memakan waktu belasan jam, ketiga gerbong kereta hanya dibuka sesekali. Itu pun hanya sebentar. Para tahanan juga tak diberi makanan dan minuman selama perjalanan. Oleh karenanya, para tahanan mati lemas satu per satu.
Sesampainya di Bondowoso, sebanyak 46 pejuang tewas karena mati lemas tak mendapatkan makanan dan minuman, kepanasan, serta udara yang cukup. Sedangkan sisanya selamat, meski dalam keadaan lemas dan lunglai. Para tahanan yang selamat pun disuruh paksa untuk mengangkut mereka yang tewas. Mereka harus berhati-hati karena bisa saja kulit tahanan yang tewas terkelupas, akibat kepanasan dan terpanggang dalam gerbong baja kereta api. Semenjak itu, Bondowoso dikenal dengan kisah Gerbong Maut. Untuk mengingatkan kekejaman Belanda pada Indonesia.
Kereta api Gerbong Maut pun disimpan di Museum Brawijaya yang berada di Jalan Ijen No.25, Malang, Jawa Timur. Sedangkan di pusat kota Bondowoso dibuat replika sebuah monumen, yang diberi nama Monumen Gerbong Maut.
Sejarah Bondowoso
Berawal dari seorang anak yang bernama Raden Bagus Assra, ia adalah anak Demang Walikromo pada masa pemerintahan Panembahan di bawah Adikoro IV, menantu Tjakraningkat Bangkalan, sedangkan Demang Walikoromo tak lain adalah putra Adikoro IV. Tahun 1743 terjadilah pemberontakan Ke Lesap terhadap Pangeran Tjakraningrat karena dia diakui sebagai anak selir.
Pertempuran yang terjadi di desa Bulangan itu menewaskan Adikoro IV, Tahun 1750 pemberontakan dapat dipadamkan dengan tewasnya Ke Lesap. Terjadi pemulihan kekuasaan dengan diangkatnya anak Adikoro IV, yaitu RTA Tjokroningrat. Tak berapa lama terjadi perebutan kekuasaan dan pemerintahan dialihkan pada Tjokroningrat I anak Adikoro III yang bergelar Tumenggung Sepuh dengan R. Bilat sebagi patihnya. Khawatir dengan keselamatan Raden Bagus Assra, Nyi Sedabulangan membawa lari cucunya mengikuti eksodus besar-besaran eks pengikut Adikoro IV ke Besuki. Assra kecil ditemukan oleh Ki Patih Alus, Patih Wiropuro untuk kemudian di tampung serta dididik ilmu bela diri dan ilmu agama..Usia 17 tahun beliau diangkat sebagai Mentri Anom dengan nama Abhiseka Mas Astruno dan tahun 1789 ditugaskan memperluas wilayah kekuasaan Besuki ke arah selatan, sebelumnya beliau telah menikah dengan putri Bupati Probolinggo.
Tahun 1794 dalam usaha memperluas wilayah beliau menemukan suatu wilayah yang sangat strategis untuk kemudian disebut Bondowoso dengan diangkatnya beliau sebagi Demang di daerah yang baru dengan nama Abhiseka Mas Ngabehi Astrotruno. Demikianlah dari hari ke hari Raden Bagus Assra berhasil mengembangkan Wilayah Kota Bondowoso dan tepat pada tanggal 17 Agustus 1819 atau hari selasa kliwon, 25 Syawal 1234 H. Adipati Besuki R. Aryo sebagai orang kuat yang memperoleh kepercayaan.
Gubernur Hindia Belanda, dalam rangka memantapkan strategi politiknya menjadikan wilayah Bondowoso lepas dari Besuki, dengan status Keranggan Bondowoso dan mengangkat R. Bagus Assra atau Mas Ngabehi Astrotruno menjadi penguasa wilayah dan pimpinan agama, dengan gelar M. NG. Kertonegoro dan berpredikat Ronggo I, ditandai penyerahan Tombak Tunggul Wulung.Masa Beliau memerintah adalah tahun 1819 – 1830 yang meliputi wilayah Bondowoso dan Jember.
Pada tahun 1854, tepatnya tanggal 11 Desember 1854 Kironggo wafat di Bondowoso dan dikebumikan di atas bukit kecil di Kelurahan Sekarputih Kecamatan Tegalampel, yang kemudian menjadi Pemakaman keluarga Ki Ronggo Bondowoso.
Sumber : bondowosokab.go.id
Sumber : news.liputan6.com
KAWAH IJEN
Gunung Ijen atau lebih di kenal dengan Kawah Ijen, adalah salah satu gunung yang masih aktif sampai sekarang. Memiliki ketinggian 2.443 m dari atas permukaan laut, berdinding kaldera setinggi 300-500 m dan telah 4 kali meletus di tahun 1796, 1817, 1913 dan 1936. Ijen merupakan satu komplek gunung berapi yang terdiri dari kawah gunung Ijen dan dataran tingginya. Kawasan ini terletak di tiga kabupaten yaitu Situbondo, Bondowoso dan Banyuwangi.
Di kawasan gunung berapi ini terdapat pertambangan belerang, dimana mengindikasikan gunung ini masih aktif dan beraktifitas. Saat berada di kawasan kawah Ijen, anda bisa menyaksikan para penambang yang sibuk membawa tumpukan belerang di punggung mereka, menyusuri jalan yang curam dan dipenuhi oleh gas beracun yang berbahaya. Kawah Ijen merupakan pusat danau kawah terbesar di dunia, yang bisa memproduksi 36 juta meter kubik belerang dan hidrogen klorida dengan luas sekitar 5.466 hektar. Kawah yang berbahaya ini memiliki keindahan yang sangat luar biasa dengan danau belerang berwarna hijau toska dengan sentuhan dramatis dan elok. Danau Ijen memiliki derajat keasaman nol dan memiliki kedalaman 200 meter. Keasamannya yang sangat kuat dapat melarutkan pakaian dan jari manusia.
Anda juga bisa melihat fenomena alam yang unik dan hanya dapat dilihat di Kawah Ijen yaitu blue fire .Saking indahnya fenomena ini bahkan mengalahkan popularitas matahari terbit di Banyuwangi yang disebut sebagai matahari pertama di Jawa.
Tak hanya itu, banyak wisatawan dari berbagai negara rela datang jauh-jauh sekedar untuk melihat penampakan si Api Biru di kawah Ijen.

Deskripsi dan Sejarah Kota Blitar
Tentang Kota Blitar
Kota Blitar yang juga dikenal dengan sebutan Kota Patria , Kota Lahar dan Kota Proklamator secara legal-formal didirikan pada tanggal 1 April 1906. Dalam perkembangannya kemudian momentum tersebut ditetapkan sebagai Hari Jadi kota Blitar. Walaupun status pemerintahannya adalah Pemerintah Kota, tidak serta-merta menjadikan mekanisme kehidupan masyarakatnya seperti yang terjadi dikota -kota besar. Memang ukurannya pun tidak mencerminkan sebuah kota yang cukup luas. Level yang dicapai kota Blitar adalah sebuah kota yang masih tergolong antara klasif ikasi kota kecil dan kota besar. Secara faktual sudah bukan kota kecil lagi, tetapi juga belum menjadi kota besar.
Membicarakan Kota Blitar, tidaklah lengkap kalau tidak menceritakan semangat kejuangan yang tumbuh berkembang dan kemudian terus menggelora serta menjiwai seluruh proses kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di kota ini. Di kota ini tempat disemayamkan Bung Karno, Sang Proklamator, Presiden Pertama RI, idiolog dan pemikir besar dunia yang dikagumi baik oleh masyarakat Indonesia maupun masyarakat dunia. Kota Blitar juga merupakan salah satu tempat bersejarah bagi Bangsa Indonesia, dimana sebelum dicetuskannya Proklamasi ditempat ini telah diserukan kemerdekaan Indonesia yang diikuti dengan pengibaran Sang Merah Putih yang kemudian berujung pada Pemberontakan PETA oleh Sudanco Supriyadi.
Masyarakat kota Blitar sangat bangga sebagai pewaris Aryo Blitar, pewaris Soeprijadi dan pewaris Soekarno, yang nationalistic - patriotic. Pemerintah Kota Blitar sadar akan hal ini, semangat itu dilestarikan dan dikobarkan, dimanfaatkan sebagi modal pembangunan ke depan. Tidak heran kalau akronim PATRIA dipilih sebagai semboyan. Kata PATRIA ini disusun dari kata PETA, yang diambil dari legenda Soedanco Soeprijadi yang memimpin pemberontakan satuan Pembela Tanah Air (PETA) di Blitar pada Jaman Penjajahan Jepang, serta dari kata Tertib, Rapi, Indah, dan Aman. Selain itu, kata PATRIA memang sengaja dipilih karena didalamnya mengandung makna "Cinta tanah air". Sehingga dengan menyebut kata PATRIA orang akan terbayang kobaran semangat nasionalisme yang telah ditunjukkan oleh para patriot bangsa yang ada di kota Blitar melalui roh perjuangannya masing-masing.
Sejarah Kota BlitarBlitar didirikan pada sekitar abad ke-15. Nilasuwarna atau Gusti Sudomo, anak dari Adipati Wilatika Tuban, adalah orang kepercayaan Kerajaan Majapahit, yang diyakini sebagai tokoh yang mbabat alas. Sesuai dengan sejarahnya, Blitar dahulu adalah hamparan hutan yang masih belum terjamah manusia. Nilasuwarna, ketika itu, mengemban tugas dari Majapahit untuk menumpas pasukan Tartar yang bersembunyi di dalam hutan selatan (Blitar dan sekitarnya). Sebab, bala tentara Tartar itu telah melakukan sejumlah pemberontakan yang dapat mengancam eksistensi Kerajaan Majapahit. Singkat cerita, Nilasuwarna pun telah berhasil menunaikan tugasnya dengan baik Bala pasukan Tartar yang bersembunyi di hutan selatan, dapat dikalahkan.
Sebagai imbalan atas jasa-jasanya, oleh Majapahit, Nilasuwarna diberikan hadiah untuk mengelola hutan selatan, yakni medan perang yang dipergunakannya melawan bala tentara Tartar yang telah berhasil dia taklukkan. Lebih daripada itu, Nilasuwarna kemudian juga dianugerahi gelar Adipati Ariyo Blitar I dengan daerah kekuasaan di hutan selatan. Kawasan hutan selatan inilah , yang dalam perjalanannya kemudian dinamakan oleh Adipati Ariyo Blitar I sebagai Balitar (Bali Tartar). Nama tersebut adalah sebagai tanda atau pangenget untuk mengenang keberhasilannya menaklukkan hutan tersebut. Sejak itu, Adipati Ariyo Blitar I mulai menjalankan kepemimpinan di bawah Kerajaan Majapahit dengan baik. Dia menikah dengan Gutri atau Dewi Rayung Wulan, dan dianugerahi anak Djoko Kandung.
Namun, di tengah perjalanan kepemimpinan Ariyo Blitar I , terjadi sebuah pemberontakan yang dilakukan oleh Ki Sengguruh Kinareja, yang tidak lain adalah Patih Kadipaten Blitar sendiri. Ki Sengguruh pun berhasil merebut kekuasaan dari tangan Adipati Ariyo Blitar I, yang dalam pertempuran dengan Sengguruh dikabarkan tewas. Selanjutnya Sengguruh memimpin Kadipaten Blitar dengan gelar Adipati Ariyo Blitar II. Selain itu, dia juga bermaksud menikahi Dewi Rayungwulan.
Mengetahui bahwa ayah kandungnya (Adipati Ariyo Blitar I) dibunuh oleh Sengguruh atau Adipati Ariyo Blitar II maka Djoko Kandung pun membuat perhitungan. Dia kemudian melaksanakan pemberontakan atas Ariyo Blitar II, dan berhasil. Djoko Kandung kemudian dianugerahi gelar Adipati Ariyo Blitar III. Namun sayangnya dalam sejarah tercatat bahwa Joko Kandung tidak pernah mau menerima tahta itu, kendati secara de facto dia tetap memimpin warga Kadipaten Blitar.
Subscribe to:
Posts (Atom)




